Kalium Atur Keseimbangan Elektrolit Tubuh
KALIUM sangat penting
bagi sistem saraf dan kontraksi otot, kata Dr. Samuel Oetoro, Sp.GK, MS,
ahli nutrisi dari Semanggi Specialist Clinic. Kalium juga dimanfaatkan
oleh sistem saraf otonom (SSO), yang merupakan pengendali detak jantung,
fungsi otak, dan proses fisiologi penting lainnya.
Potasium
ditemukan di hampir seluruh tubuh dalam bentuk elektrolit dan banyak
terdapat pada saluran pencernaan. Sebagian besar kalium tersebut berada
di dalam sel, sebagian lagi terdapat di luar sel. Mineral ini akan
berpindah secara teratur dari dan keluar sel, tergantung kebutuhan
tubuh.
Di dalam tubuh, kalium biasanya bekerja sama dengan sodium
atau natrium (Na) dalam mengatur keseimbangan muatan elektrolit cairan
tubuh. Keseimbangan ini dijaga dengan menyesuaikan jumlah asupan kalium
dari makanan dan jumlah kalium yang dibuang.
Cukup mudah
memperoleh kalium dari makanan sehari-hari. Kalium banyak ditemukan pada
jeruk, pisang, kentang, alpukat, bayam, tomat, daging, susu, dan
kacang-kacangan. Orang sakit yang kurang konsumsi makanan melalui mulut,
tentunya asupan kalium akan berkurang pula.
Dalam keadaan
normal, organ ginjal berperan menyesuaikan antara asupan dan jumlah
kalium yang dibuang tubuh. Sebagian besar kalium dibuang melalui urin,
walaupun ada juga yang keluar bersama tinja.
Penggunaan PencaharDijelaskan
Dr. Samuel, kadar kalium dalam darah orang normal 3,5-5 mEq/liter. Bila
kurang dari itu dibilang kekurangan kalium atau dikenal dengan istilah
hipokalemia. “Orang jarang kekurangan kalium,” kata Dr. Samuel.
Olahragawan
membutuhkan asupan kalium lebih banyak karena banyak mengeluarkan
keringat. Pengguna obat pencahar juga butuh asupan kalium lebih untuk
menggantikan kalium yang keluar akibat proses diuretik. Sebaliknya,
orang yang mempunyai penyakit diabetes dan gagal ginjal disarankan tidak
mengasup kalium terlalu banyak. Ini karena tubuh mereka tidak dapat
lagi secara normal memetabolisme mineral ini.
Ginjal yang normal
dapat menahan kalium dengan baik. Jika konsentrasi kalium darah terlalu
rendah, biasanya karena ginjal tidak berfungsi normal atau terlalu
banyak kalium yang hilang melalui saluran pencernaan akibat diare,
muntah, penggunaan obat pencahar dalam waktu lama, atau polip di usus
besar.
Ginjal juga mengeluarkan banyak kalium pada orang yang
mengonsumsi sejumlah besar kayu manis atau mengunyah tembakau. Kalium
bisa hilang lewat air kemih karena beberapa alasan. Yang paling sering
adalah akibat penggunaan obat diuretik yang menyebabkan ginjal membuang
natrium, air, dan kalium dalam jumlah berlebihan.
Obat-obatan
seperti insulin dan obat asma jenis albuterol, terbutalin, dan teofilin
bisa meningkatkan perpindahan kalium ke dalam sel dan mengakibatkan
hipokalemia. Namun, pemakaian obat-obatan ini jarang menjadi penyebab
tunggal terjadinya hipokalemia.
Mudah lelahHipokalemia
ringan biasanya tidak menyebabkan gejala sama sekali. Kondisi yang
lebih berat dapat mengakibatkan kelemahan fungsi otot dan tubuh mudah
lelah. Kelemahan otot biasanya terjadi pada otot kaki dan tangan, tetapi
kadang juga mengenai otot mata, otot pernapasan, dan otot untuk
menelan. Kedua keadaan terakhir ini dapat berakibat fatal. Kondisi lemah
otot ini dialami Rianti, yang sering kram di kaki jika terlalu banyak
beraktivitas. “Pernah sampai lumpuh,” kata gadis 24 tahun ini.
Oleh
dokter ia disarankan banyak makan pisang. “Sekarang aku tak bisa jauh
dari pisang,” ujarnya. Pada kondisi hipokalemia parah, sistem saraf juga
mengalami gangguan dalam mengantarkan rangsangan. “Yang lebih parah,
meskipun jarang terjadi, hipokalemia dapat menyebabkan masalah serius
seperti detak jantung tak beraturan hingga berhentinya detak jantung,”
imbuh Dr. Samuel.
Beberapa penelitian menyebutkan, orang yang
kekurangan potasium lebih berisiko terkena penyakit hipertensi, yang
merupakan faktor pemicu penyakit jantung dan stroke. Kurang asupan
kalium mudah digantikan dengan mengonsumsi makanan sumber kalium atau
garam kalium (kalium klorida) dengan cara ditelan (oral). Pengobatan
oral ini lebih mudah, tetapi karena kalium dapat mengiritasi saluran
pencernaan, hanya diberikan dalam dosis kecil. Pemberian 40-60 mEq dapat
menaikkan kadar kalium sebesar 1-1,5 mEq/L, sedangkan 135-160 mEq dapat
menaikkan kalium 2,5-3,5 mEq/L.
Pada hipokalemia berat, kalium
bisa diberikan secara intravena. Hal ini harus dilakukan dengan sangat
hati-hati dan hanya di rumah sakit, untuk menghindari kenaikan kadar
kalium yang terlalu tinggi. Konsentrasi kalium dalam darah orang dengan
hipokalemia berat ini mesti diperiksa ulang secara periodik. Bila
kondisi membaik, jenis pengobatan dapat diubah.
http://www.infogue.com/viewstory/2008/07/07/kalium_atur_keseimbangan_elektrolit_tubuh/?url=http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/07/22035499/kalium.atur.keseimbangan.elektrolit.tubuh